![]() |
| HARGA NAIK: Petani tembakau di Kotaanyar saat mengiris tembakau. Harga tembakau di Kabupaten Probolinggo kini mencatat angka tertinggi 2 tahun terakhir. |
Di awal September, harga tembakau masih di kisaran Rp 50 ribu–Rp 53 ribu per kilogram. Namun, menginjak akhir bulan September harganya terus naik. Hingga saat ini mencapai Rp 55 ribu per kilogram.
Kondisi ini membuat para petani tembakau semringah. Lukman Hakim, salah seorang petani tembakau asal Kecamatan Kotaanyar mengatakan, harga tembakau dari petani saat ini di kisaran Rp 50 ribu – Rp 53 ribu per kilogram.
“Tergantung kualitas tembakaunya. Biasanya kalau daun bawah masih Rp 50 ribuan. Paling tinggi Rp 53 ribu dengan kualitas bagus dan panenan daun tengah,” ujarnya, Minggu (18/9).
Lukman pun mengaku bersyukur karena harga tembakau melambung. Salah satu faktornya menurutnya karena cuaca saat ini cukup bersahabat. Hujan tak lagi sering turun.
Efeknya, kualitas daun tembakau pun jauh lebih baik dari biasanya. Sehingga harganya pun melambung.
“Kalau dua bulan lalu, terus ada yang panen pasti rusak. Sebab, hujan sering turun. Apalagi pas dijemur malam. Bisa-bisa tembakaunya hitam, rusak,” katanya.
Zainul Hasan, petani asal Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, mengaku, tembakau miliknya dibeli tengkulak seharga Rp 55 ribu per kilogram. “Alhamdulillah, semalam punya saya ditawar Rp 55 ribu. Ya langsung saya kasih. Itu tembakau kualitas baik. Kalau yang tidak super atau baik di bawah itu,” ujarnya.
Lailatul Qodar, pengepul tembakau asal Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, membenarkan tingginya harga tembakau saat ini. Menurutnya, ketersediaan tembakau terbatas. Karena itu, para tengkulak bersaing mendapatkan tembakau.
“Saat ini target lahan tembakau kan belum tercapai. Dari target sembilan ribu hektare, baru 5.500 hektare lebih. Jadi persediaan tembakau di petani terbatas. Sementara, agar tahun depan bisa kembali ngirim ke gudang, pengepul harus terus bisa beli barang,” katanya.
Semua faktor itu, menurutnya, menjadi penyebab tingginya harga tembakau saat ini. Namun, tingginya harga tembakau di petani tidak berbanding lurus dengan harga pembelian tembakau oleh gudang dari pengepul.
“Tipis sekali dari harga yang diambil dari petani. Misal pengepul ngambilnya Rp 53 ribu sampai Rp 55 per kilogram, gudang paling tinggi ambilnya Rp 55 ribu. Sehingga bisa saja rugi. Namun ya kita percaya saja bahwa rezeki itu ada yang ngatur,” tuturnya.
Jawa Pos Radar Bromo mencoba mengonfirmasi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi tentang tingginya harga tembakau saat ini. Namun, yang bersangkutan belum memberikan respon.
